Pertama dan Terakhir
Bab 1 Pertemuan di masa depan

Sipakah dia pria memakai seragam osis putih dan celana abu-abu sedang menuju ke kelas sambil membawa tas berwarna hitam bersepatu hitam. Ya benar itu adalah aku, namaku Nafchi saat ini aku ingin mendaftar di SMA umurku kurang lebih 16 tahun sekolah itu begitu besar mempunyai gerbang masuk dengan besi di sebelahnya ada pos satpam jika kau maju ke depan menengok ke kiri akan menemui GOR itu adalah ruangan tertutup untuk berolahraga Menengok ke arah sebaliknya di situ ada lapangan besar untuk melakukan berbagai kegiatan seperti upacara lomba-lomba dan lainnya. “Sebelum cerita ini dimulai aku bukanlah karakter utama yang ingin menguasai dunia” “Bukan juga karakter utama yang menjelajahi lautan dan jadi raja bajak laut” “Ceritaku ini hanyalah kehidupan SMA biasa yang dicampur bumbu-bumbu manis yang kata mereka masa-masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan” Aku berjalan di lingkungan sekolah lalu tidak sengaja menabrak salah satu guru dan menumpahkan kopinya ke kemeja yang ia pakai. “Maaf aku tidak sengaja” “Tidak-tidak aku tidak keberatan” Guru itu meninggalkanku. Dia bicara pada dirinya sendiri. “Akan kubalas dasar anak baru untungnya aku punya kekuasaan di sini jadi  kubuat dirimu tidak sempat mendaftar di sini” berhenti sejenak di lobi mengecek peta di handphone di mana kelasku karena aku murid baru di sini menengok ke kanan dan kiri. “Harusnya ke kanan? Eh bukan kiri mungkin” Seorang gadis berambut abu-abu dia memakai kacamata menghampiriku. “Kemarilah kutunjukkan tempat pendaftaran padamu” “Oke aku ikut” Aku mengikuti gadis itu sampai kita tiba di sebuah pohon lalu. “Jrettt” Aku menginjak jebakan yang entah siapa yang memasang tapi perasaanku mengatakan gadis itulah yang memasang dia membuatku terbalik tasku jatuh ke tanah lalu lembaran-lembaran untuk mendaftar dia mengambilnya. “Hey apa maksudmu” “Maaf aku terpaksa agar aku bisa menjadi siswa di SMA ini” “Lepaskan woy” Gadis abu-abu itu menghiraukan lalu menjauh dan membawa lembaran milikku untuk mendaftar. Aku melirik ke kanan dan kiri. “Sip tidak ada yang melihat” Aku mengangkat badanku dan meraih tali yang mengikat kaki kananku setelah berhasil lepas merangkul kembali tasku mencari gadis abu-abu itu. “Di mana dia?” “Aku melihatnya” Aku melihat gadis rambut abu-abu itu masuk ke kelas menghampiri dan mendobrak pintunya dan ternyata tidak kunci spontan aku terpeleset di depannya. “Sakit” Dia hanya menatapku. “Kembalikan” “Tidak” “Kenapa kau lakukan ini?” “Maaf aku terpaksa ini karena aku harus bisa menjadi murid di sini” “Aku juga” Aku berjalan perlahan mendekat ke gadis itu dia terlihat berpura-pura tegar saat lengah kurebut kembali selebaran milikku kumasukkan kembali ke tas. “Sip” Aku meninggalkan gadis itu tanpa sepatah kata aku menuju tempat pendaftaran peserta didik baru setelah selesai dengan hal yang kurang berguna itu aku melihat guru yang kutabrak masuk ke kelas yang sama tadi kutinggalkan. “Apa karena dia alasan gadis itu menghalangiku? bisa saja” Aku mengintip dari celah di tengah pintu mendengar percakapan keduanya. “Maaf aku gagal” “Kau tidak pantas jadi murid di sini akan kuhilangkan namamu dari daftar murid” “Tolong aku mau sekolah di sini” “Dasar tidak berguna! percuma memberi kesempatan untuk menjadi murid di sini tapi kau sia-sia” Saat guru itu mulai berteriak kepada gadis rambut abu-abu itu aku membuka pintu dan bertepuk tangan perlahan. “Hanya karena aku tidak sengaja menumpahkan kopi di bajumu kau mau menggagalkanku mendaftar di sini bahkan sampai menyuruh gadis tak bersalah untuk melakukannya” “Aku guru di sini! Bebas berbuat sesuka” “Ya ampun” “Kalau begitu maafkan aku” “Aku sudah minta maaf jadi bisa tinggalkan dia” “Mana mau aku bisa akan mencoret nama kalian dari daftar murid baru mwahaha” “Dapat” Aku menghentikan rekaman suara dari handphoneku. “Mustahil sejak kapan kau” “Sejak aku masuk ke sini sudah curiga dengan dirimu jadi untuk jaga-jaga aku merekam percakapan kita berdua” “Aku bisa saja melapor ke kepala sekokah jika aku mau membuatmu bisa dipecat” “Kau tidak usah bercanda!” “Kuberi satu pertanyaan mudah di atas ilmu ada apa?” “Uang tentu saja” “Salah” “Jawabannya adab” “Sekolah di sini sangat ketat terhadap adab tentu saja jika ada yang tahu kelakuan guru sepertimu mestinya akan langsung memecatmu” “Minta maaf padanya dan kuhapus rekamannya” Guru itu menghadap ke gadis rambut abu-abu. “Maafkan aku” Gadis itu hanya mengangguk lalu meninggalkan kita berdua aku jalan perlahan dan saat kulewati gerbang sekolah gadis itu sudah tidak ada Keesokan harinya. Kelasku sendiri terletak di lantai dua sehingga bisa melihat sekeliling sekolah menaiki tangga yang penuh dengan kata-kata motivasi di setiap anak tangganya seperti. “Jadilah versi terbaik dirimu sendiri” “Buku adalah teman saat sendiri” “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain” “Buku adalah temanmu” “Usaha tidak menghianati hasil” Yah itu tidak membuatku termotivasi sama sekali itu hanya kata-kata yang menurutku hanya omong kosong karena diri kita sendiri tergantung usaha kita sendiri. saat sudah masuk ke kelas saat ini aku duduk di belakang tepatnya larik nomor 2 di dekat tembok itu adalah tempat favoritku. Datanglah 2 pengurus OSIS yah bisa dibilang itu tugas mereka untuk memperkenalkan sekolah kepada murid baru ,Aku menatap keduanya dengan  biasa saja karena aku tahu mereka pasti akan menggoda peserta baru untuk ikut osis mereka mengenalkan diri mereka saat masuk kelas sembari memberikan ucapan selamat dan salam. “Halo teman-teman semua perkenalkan kami dari pengurus osis akan membimbing kegiatan hari ini tolong diperhatikan yah ,Namaku Adit salam kenal” Dia laki-laki berbadan besar tapi tidak gemuk tingginya sekitar 170 Cm dia benar-benar orang yang tinggi memakai jam tangan di tangan kiri lalu memakai jas berwarna hitam ada logo OSIS lengan kirinya dan kartu nama di dadanya. “Halo adik-adik semua perkenalkan nama mba Lia Salam kenal” Dia perempuan memakai setelan yang sama dengan laki-laki yang bernama adit itu saat mereka di depan kelas menjelaskan tingginya sepundak Adit mereka. “Salam kenal Mas dan Mba” Semua siswa mengatakan hal yang sama. Setelah beberapa kali aku memperhatikan mereka tampak kebingungan bisa dilihat mereka menyembunyikan tangan yang gemetar aku bisa melihatnya karena aku di pojok beberapa saat mereka memberikan arahan untuk perkenalkan diri. “Baik teman-teman semua bagaimana jika kita berkenalan satu sama lain ada pepatah tak kenal maka tak sayang” Aku berusaha menahan tawa saat mendengar hal itu di dalam hatiku aku berbicara pada diriku sendiri. “Mereka pasti bercanda Apa-apaan kata-kata tak kenal maka tak sayang mereka pasti tukang perayu adik kelas ada-ada saja“ Adit melihat ekspresiku menahan tawa dia menuju ke arahku. “Adik apakah ada hal lucu?” “Tidak ada aku cuma menahan mengantuk” Aku berbohong. “Bagaimana jika kamu memperkenalkan dirimu ke depan mungkin bisa membuatmu tidak mengantuk lagi” Aku terpaksa maju ke depan papan tulis di tengah siswa dan siswi lainnya. “Halo teman-teman semua namaku Nafchi umurku 16 tahun umm semoga kita bisa berteman baik “ Itu adalah kesan pertama yang buruk untuk perkenalan tapi aku tidak terlalu memikirkannya ,Aku kembali lagi ke bangku ku dan duduk diam sembari melihat siswa lain memperkenalkan diri. Kedua OSIS itu mengoceh terus-terus an tentang sejarah sekolah ini itu jujur saja itu membuatku mengantuk aku hanya ingin bersekolah di sini tanpa kusadari waktunya pulang ke rumah ternyata hari masih siang jadwal pulang yang ditetapkan selama 2 hari ke depan ini adalah siang hari. Aku bergegas mengambil tas yang kuletakkan samping kursiku karena aku bersemangat untuk tidur aku tergesa-gesa keluar pintu kelas tanpa sengaja menabrak seorang gadis di depan pintu kelas namanya Elaina dia perempuan memakai seragam sekolah yang sama denganku di tasnya ada tulisan namanya sendiri. Di kepalanya memakai kacamata dia tidak begitu tinggi kira-kira 160cm rambutnya panjang abu-abu ada yang dikepang di sebelah kanan sebagian lalu membiarkannya terurai di sisi kirinya diikat di ujung. Aku membuatnya terjatuh ke lantai aku melambaikan tangan padanya membantunya untuk berdiri. “Hei apakah kamu tidak apa-apa? Maaf ya aku sedang buru-buru” “Iya aku tidak apa-apa ,Apakah Kamu Nafchi?“ Dia tersenyum padaku. “Iya aku Nafchi siapa namamu?” Aku bukanlah tipe laki-laki yang menghafal nama perempuan lain karena itu terkesan aneh bagiku itu menurutku kita semua punya pendapat jadi terserah. “Elaina” “Yah sampai jumpa lagi Elaina” Saat kudengar nama dan melihat penampilannya aku terpikirkan seseorang yang sama dan dulu kukenal. “Apa kita pernah saling bertemu sebelumnya?” “Hmmmm” Elaina melipat kedua tangannya. “Tidak” “Oh begitu ya” “Tunggu” “Kau orang yang menjebakku di hari pertama pendaftaran” “Ya benar itu aku jadi? Aku sudah melupakan kejadian” “Tidak kusangka kita sekelas” “kalau begitu dah” “Ya dah” Setelah membantu Elaina berdiri kembali aku melanjutkan langkah kakiku menuruni tangga menuju gerbang keluar sekolah pulang ke rumahku bisa dibilang Elaina adalah orang pertama yang kukenal. Keesokan Harinya. Aku terbangun di pagi hari dalam keadaan malas aku dan mengantuk sehingga mataku terlihat merah namun itu normal menurutku Memulai sarapan mandi menyiapkan buku berganti pakaian berjalan menuju sekolah. Saat berjalan ke sekolah aku melihat seorang gadis sedang membungkuk di jalan mencari sesuatu kebetulan dia memakai seragam yang sama denganku jadi aku menghampirinya. “Permisi adakah yang bisa aku bantu?” Dia terdiam terus melanjutkan mencari barang di pinggir jalan. Aku bicara pada diriku sendiri. “Ya sudahlah jika dia mengabaikanku aku tidak bermaksud mendekatinya apalagi jatuh cinta” Memasang ekspresi datar meninggalkan gadis itu di pinggir jalan beberapa saat setelah melangkah tidak jauh dari gadis tersebut aku melihat jam di handphoneku sudah mendekati waktu masuk sekolah. Menoleh ke gadis itu dan berbicara lagi pada diriku sendiri. “Mungkin aku harus membantunya” Menghela nafas. Aku kembali ke tempat pinggir jalan tadi aku melihat dia mengusap ngusap dan meraba raba jalan mencari sesuatu aku pun ikut berjongkok di sebelahnya ikut mencari barang itu tanpa tanya apa yang dicari setelah kusadari ada kacamata di sebelah kanan gadis itu aku mengambilnya. “Apakah ini kacamata milikmu?” Gadis itu menoleh padaku tanpa bicara apa pun dia mengambil kacamatanya. “Wah benar ini kacamataku Terima kasih Nafchi” Dia tersenyum padaku. Aku merasa pernah bertemu dia sebelumnya tapi di mana mengingat beberapa saat gadis itu pun memakai kacamatanya aku teringat dia adalah Elaina. “Um sama-sama Elaina” “Nafchi apakah kamu mau berjalan bersama ke sekolah bersamaku?” Aku kaget mendengar hal itu karena selama ini belum ada perempuan yang berangkat berjalan bersamaku meskipun kita sama-sama murid baru tapi ini adalah hal baru dalam hidupku. “Tentu saja Elaina” Kita bersebelahan berjalan ke sekolah aku canggung ketika dia berjalan di sebelahku karena aku jarang sekali berkomunikasi dengan perempuan kecuali ibuku aku menutup mulutku dan diam saat berjalan bersamanya. Elaina juga ikut diam ketika berjalan bersamaku ,Kurasa itu normal bagi siswa baru apalagi laki-laki dan perempuan teman sekelas baru kita sampai ke sekolahan dan duduk di bangku masing-masing. Pengurus OSIS yang kemarin masuk lagi ke kelasku. “Halo teman-teman semua sudah siap untuk hari ini” Bersemangat dan tersenyum. Aku sendiri tahu itu hanya untuk formalitas saja dan pasti di hatinya gugup dan ingin segera pulang ke rumah. “Kami semua siap” “Baiklah di hari kedua hari ini teman-teman mas dan mba akan mengajak kalian berkeliling sekolah dari gerbang pintu masuk sampai pojok sekolah” Aku pun mengikuti arahan kedua OSIS itu dan berbaur dengan siswa laki-laki lainnya dan aku mendapatkan teman berkenalan dengan mereka di sepanjang jalan kita mengelilingi sekolah OSIS menunjukkan berbagai bangunan kepada ku seperti kelas tahun ke tiga dan kelas tahun ke dua, perpustakaan ruang guru ruang tari ruang tata usaha ,UKS Ruang BK lalu kembali ke kelas lagi saat tiba dikelas itu adalah waktu istirahat aku mengambil buku dan menjadikannya kipas aku mengambil bekalku dari tas yang kusiapkan seniatku saja hanya telur mata sapi nasi dan mi memakan di bangkuku sendiri hingga habis lalu meminum air botol yang kubawa dari rumah. Aku mencoba interaksi dengan teman baruku duduk bersebelahan membentuk lingkaran namanya adalah Awlan dan Izzan  kita semua berjabat tangan satu sama lain dan saling menyebutkan nama satu per satu bertukar nomer kontak . Awlan memulai percakapan. “Semoga kita menjadi teman yang baik sampai kapanpun” Semua laki-laki pun ikut menanggapinya. “Yah itu benar!” Semua laki-laki tertawa bersama. Salah satu Gadis menemui kita namanya Nai. “Hei bisakah kalian tidak seperti anak kecil!?” Sambil membentak. Izzan pun menjawab. “Apakah di sekolah ini ada peraturan dilarang tertawa? benar kan teman teman” Serentak kami para laki-laki menertawakan gadis itu yang menegur kami tertawa. “HEMPH” Dia kembali ke gerombolan gadis lain. Waktu istirahat habis OSIS kembali masuk ke kelasku. “Sekarang adalah sesi tanya jawab apakah ada yang ingin bertanya?” Aku terdiam mendengar hal itu dan tidak memedulikannya memalingkan pandanganku ke luar jendela. Lia melihatku tidak memperhatikan apa yang dijelaskan di depan menegurku. “Apakah ada yang lebih penting dari sekolah Nafchi? perhatikan ke depan ya” “Yah baiklah” Aku berusaha fokus ke depan tidak ada satu pun yang bertanya dalam sesi bertanya itu osis pun memberikan kita arahan. “Sekarang teman-teman mas dan mba akan membagikan soal tentang sekolahan yang tadi jelaskan mulai dari sejarah sekolahan dan lokasi ruangan sekolahan buatlah kelompok 1 orang laki-laki dan perempuan” Aku kaget ketika kedua osis itu bilang buatlah kelompok satu laki dan satu perempuan sejauh ini aku hanya kenal. Elaina dan dia terkenal di kelas mungkin dia dapat dengan cepat mendapat teman satu kelompok Aku hanya duduk menatap meja dan melihat orang lain sudah mendapat kelompok. Seseorang memanggil namaku. “Nafchi sini membentuk kelompok bersamaku” Aku menoleh padanya ternyata Elaina. “Baiklah aku ke sana” Aku menuju bangku Elaina yang di paling ujung sebelah kiri duduk bersebelahan dengan Elaina osis memberikan selebaran soal ke seluruh siswa termasuk aku saat mengambil selembar kertas dari osis tanganku dan Elaina bersentuhan saat mengambilnya dengan cepat aku melepaskan tangannya. “Maaf Elaina aku bermaksud untuk melakukannya” “Apa-apaan kau ini menjijikkan” Seketika membuatku canggung dan tidak nyaman aku hanya melihat dia mengejarkan soal tersebut sendiri setelah selesai OSIS menarik lembar soal tersebut dan mengumumkan nilai ke depan. “Selamat kepada Nafchi dan Elaina silakan maju ke depan” Aku pun berjalan dan maju ke depan bersama Elaina kami diberi sertifikat murid teraktif dalam kelas setelah itu aku melangkahkan kakiku ke bangku kembali tapi Adit memegang tanganku. “Sebentar Nafchi kami akan mendokumentasi kan ini untuk kepentingan organisasi” Menghela nafas. Aku diatur oleh kedua OSIS itu aku dan Elaina berfoto bersamaan sembari memegang sertifikat yang mungkin bisa kupamerkan ke tetanggaku satelah beberapa foto kami diizinkan kembali ke bangku masing-masing . “Selamat buat teman-teman semua kalian telah melaksanakan kegiatan pengenalan sekolah dengan baik mulai besok kalian akan mulai bertemu guru dan belajar menuntut ilmu disini Kami berdua pamit Sampai jumpa lagi yaa” Kedua OSIS itu pun pergi meninggalkan kelas bel pulang berbunyi aku melihat luar dari jendela hujan besar melanda untungnya aku membawa payung siswa lain pun meninggalkan ruangan termasuk aku saat di depan kelas aku berhenti berjalan melihat Elaina terdiam di bangkunya sendiri melihat langit yang sedang hujan deras berjalan menuju Elaina karena aku merasa tidak enak padanya karena tidak sengaja menyentuh tangannya kuputuskan untuk memberikan payung kepadanya. “Elaina kenapa kamu hanya diam tidak pulang?” “Hemph bukan urusanmu” Dia terlihat marah. Menghela nafas. “Kalo begitu ini pulanglah” Aku memberi payung. “Eh kenapa?” “Jujur saja aku tidak merasa enak padamu saat tidak sengaja menyentuh tanganmu jadi kuputuskan untuk memberi payung ini padamu” “Apa kau sedang merayuku Hah!” “Yasudah kalo tidak mau lebih baik kupakai sendiri Wleee mana sudi aku suka pada gadis kaya kamu” “Mana sudi aku mau Cinta sama laki-laki kaya kamu hemph payah” Aku melangkahkan kakiku menjauh dari bangku Elaina menetap dia dari pintu kelas dia tampak kebingungan dan kedinginan kemudian aku memutuskan kembali menawarkannya bantuan kembali. “Nih Ambillah” Elaina diam diam mengambil payungku. “Kok main diam-diam ambil gitu” “Kamu jadi gak si pinjamankan payungnya ke aku” “Huh!” Elaina memalingkan wajahnya dan pipinya membesar. “Katanya tadi gak butuh kok sekarang maksa” Aku melepaskan genggaman tanganku dari payung memberikan ke Elaina. “Nah gitu dong jangan pelit”  Kami turun ke tangga dan menuju gerbang keluar sekolah Elaina pun memakai payungku dan berjalan sendiri setelah beberapa langkah dia berbalik. “Terima kasih Nafchi” Dengan suara halus dan pipi memerah. Aku kaget melihat pergantian sifat itu dengan cepat setelah dia tadi membentakku sekarang menjadi seperti bidadari pipiku ikut memerah saat itu. “Sama-sama Elaina” Eaina pergi duluan ke rumahnya dengan membawa payungku aku menunggu hujan sedikit reda beberapa jam setelah sedikit reda aku berlari menuju rumahku mandi dan berganti pakaian aku melihat hari mulai malam saat aku baringkan tubuhku di kasur aku membayangkan ekspresi Elaina yang kulihat tadi sore itu membuatku tersipu dan sulit untuk tidur aku hanya tidur 4 jam hari itu. “Arghh kenapa aku terus terusan mengingat kejadian itu” Saat Elaina sampai di rumahnya dia tidak meletakan payungku ke tempat penyimpanan payung dia membawanya ke tempat tidurnya dan menggenggamnya. “Apa-apaan laki-laki itu bisa bisanya dia berperilaku kasar padaku” Elaina Tersipu Elaina menutupi kedua mukanya dengan selimut dan beberapa kali memukul bantal sambil telungkup kemudian dia tertidur

Bab 2 Kedatangan orang baru

Aku berjalan ke sekolah dengan rasa lelah dan mata yang mengantuk beberapa kali aku menguap di jalan sembari menutupi mulutku beberapa kali hari ini ada mapel olahraga jadi aku berangkat dari rumah menggunakan baju olahraga. “Huaahh ini sungguh malas dan aku ingin tidur” Saat aku sampai di kelasku aku langsung memposisikan tubuhku untuk segera tidur salah satu temanku menghampiriku namanya Lana. “Oy  Nafchi bangun guru penjas datang ” Dia menepuk pundakku beberapa kali. “Iya iya ini aku bangun kok” Menguap. Kemudian kita bersama guru penjas pun menuju lapangan basket hari ini adalah jadwalnya olahraga basket kami melakukan pemanasan terrlebih dahulu yang dipimpin oleh guru penjasku saat selesai kita dibiarkan bermain grup laki laki dibagi beberapa menjadi grup aku sekelompok bersama Awlan dan Izzan kita bertanding melawan kelas sebelah. Bola dilambungkan ke atas  dan berebut tapi musuh yang berhasil mendapatkannya memegang bola dia berhasil melewati awlan lalu mengoper ke teman yang  berlari di sisi kiri melihat posisi kosong di sisi kanan mengopernya aku gagal menghadangnya dia berhasil menuju ke depan ring  dia mengshoot bolanya dari depan ring namun sayang bola itu terpental dan mengarah ke wajahku yang saat itu tidak reflek dan boom aku tergeletak teman-temanku pun menghampiriku. “Hei apa kau baik-baik saja?” “Hei bangunlah” Aku pingsan itu adalah kata kata yang kudengar sebelum pingsan saat aku sadar aku sedang di UKS dan berbaring pipiku merah karena terkena bola basket saat aku melihat diriku dari kaca di UKS terkejut namun penasaran dan mencoba memegang. “Aduh ish ternyata sakit” “Kau ini jangan dipegang dulu pipimu masih sakit” Aku kaget tiba tiba ada seorang perempuan rambut pendek di sampingku sedang duduk dan menatapku selama aku pingsan. “Em siapa kamu” “Kenalin namaku Yuki  aku adalah petugas UKS hari ini salam kenal dan kamu?” “Namaku Nafchi salam kenal” “Eehhh kau anak baru ya hmmm” “Iya hehe” “Pantesan aku baru melihat pertama kali dirimu” “Apakah kamu tahun pertama juga disini?” “Tidak aku sudah naik kelas dan sekarang tahun kedua di sekolah ini” Kaget karena dia adalah senior disini aku mencoba lebih sopan padanya saat berbicara dan bertingkah laku aku hanya diam. “Ehhhhh kenapa diem-diem terus si?” “Aku gapapa kok” Aku menggelengkan kepala. “Apakah kamu mau makan sesuatu aku dapat beberapa buah apel dari guru yang berjaga disini tapi dia pergi katanya ada urusan” “Umm aku mau jika tidak merepotkan mu” Dia memberikanku satu apel. Saat aku mencoba mengunyahnya aku merasa kesakitan. “Aduh” “Coba sini kulihat” Dia memegang beberapa kali pipiku dan mendekat ke mukanya. “Tunggu- jangan mendekat lagi aku malu” Aku tersipu. “Tenang saja hanya kita yang disini sekarang coba ini buka mulutmu aaaa” Aku membuka mulut. “Apakah ini sakit?” Aku merasa malu ketika ada seorang gadis yang memegang pipiku dan menyuapi itu normal kan? Atau hanya terjadi padaku saja. “Sedikit tapi sakit saat aku mencoba makan” Dia mengupas dan memotong apel menjadi beberapa bagian. “Coba lah makan ini” Dia memberikan padaku aku menerimanya dengan tangan kananku lalu memasukan ke mulutku. “Ini terasa lembut pipiku tidak saat saat mencoba memakan Terimakasih Yuki” Tersenyum ke Yuki. “Sama-sama Nafchi” Aku pun memakan apel itu bersama Yuki hingga habis. Melihat waktu yang kuhabiskan bersama sudah lama kuputuskan untuk kembali ke kelas. “Yuki mungkin sekarang waktuku untuk kembali ke kelas aku sudah lebih baik” “Syukurlah” “Terimakasih Yuki” “Sama-sama” Sebelum aku melangkah kaki keluar aku berhenti di depan pintu melambaikan tanganku dan tersenyum ke Yuki berjalan menuju kelas saat aku tiba teman-temanku senyum padaku. “Oi Keren kau sudah dapat  gadis spek anime traktir makan dong” “Anu dia itu kakak kelas” Gawat aku keceplosan. “Ngeri anak baru dapetnya kakak kelas wah aku jadi iri” “kita cuma baru tau nama satu sama lain kok gak lebih” “Kau pasti bohong kami melihatmu dia memegang pipimu saat di uks” “Itu anuuu enmmm... yah itu benar tapi dia melakukannya karena” Aku terpojok tidak bisa menemukan alasan yang tepat. “Bohong dia pasti berpikir wah sungguh ganteng adik kelasku ini sungguh ingin kunikahi” Menghela nafas. Tertawa bersama gerombolan laki laki. Pelajaran dimulai aku mulai duduk kembali di bangkuku saat aku mengambil buku pelajaran ada serobek kertas kecil di dalamnya tertulis “TETAPLAH DIKELAS SAMPAI SEMUA MURID PERGI PULANG” Dipikir pikir mungkin itu surat dari seseorang aku juga senggang jadi kuturuti saja. “Apakah ini?” Melihat sekeliling kelas. “Yah ini tidak mungkin si dari Elaina” Bel pulang bunyi teman-teman kelasku mulai meninggalkan kelas satu per satu aku tetap dibangkuku sampai semua murid pergi setelah semua teman di kelasku pergi pulang semua di situ hanya ada aku sendiri. “Hah!! Sial aku kena tipu!” Seseorang kemudian mengetuk pintu kelas beberapa kali. “Eh em masuklah” Aku kaget ternyata itu Elaina dia sendirian memasuki kelas dan hanya kami berdua yang di dalam kelas ku dia jalan perlahan menghampiriku yang duduk di bangku. “Jadi ini kamu yang nulis Elaina?” Menunjukan kertas robekan yang kutemukan di dalam tas. Elaina mengangguk. “Jadi ada perlu emm anu ehh” Ini adalah pertama kali dalam hidupku 16 tahun aku didatangi seorang perempuan cantik dan hanya  berdua di kelas tanganku mengeluarkan keringat juga karena jantungku berdebar. “Nafchi?” Elaina melihat ke bawah dan menggulung rambut dengan jarinya. “Emm iya?” “Apakah benar pipimu itu dipegang pegang oleh kakak kelas saat di uks ?aku tidak sengaja mendengarnya saat di kelas” “Iya itu benar tapi tolong percaya aku dia hanya memegangnya oke tidak lebih” Tanganku mulai bergetar saat mengatakan hal itu. Elaina secara cepat memegang kedua pipiku dengan tangannya itu membuat wajahku memerah seperti tomat karena baru pertama kalinya dalam hidupku perempuan melakukan hal itu tapi ibuku tetaplah yang pertama. “E--la –i-na apa ya-n-g lak-u-ka-n?” Aku mengatakan itu dengan grogi jantungku berdetak kencang sehingga berpatah patah saat aku mengucapkannya saat aku mencoba menatap wajah Elaina yang sebelumnya dia menatap ke bawah. “Nafchi sekarang sudah tidak ada bekas sentuhan lagi oleh kakak kelas itu diganti dengan sentuhan tanganku yang lembut ini” “Terima kasih Elaina emm anu tanganmu lembut dan juga hangat kau boleh memegang pipiku selama yang kau mau” Saat diriku mengatakan hal itu tanganku gemetar dan jantungku berdetak lebih kencang. Elaina tersipu hingga telinganya ikut memerah beberapa saat mata kita membuat kontak mata saling menatap satu sama lain perlahan  mulai melepas pikpiku dia berlari saat di depan pintu kelas berhenti dan menghadap kepadaku. “Sama-sama Nafchi” Elaina menutup mulutnya dengan satu jari. Kukira itu adalah tanda untuk tidak mengatakan pada siapa pun kurasa kemungkinan besar seperti itu setelah pertemuan dengan Elaina aku pulang ke rumahku itu sudah larut sehingga aku hanya menggosok gigiku lalu ke kamarku dan mencoba tidur tapi setiap kali aku mencoba tidur aku terus terbayang sentuhan Elaina di pipiku ini. “Apakah kejadian tadi itu mimpi ? Yah kuharap bukan” Tidurku tidak nyenyak sampai-sampai aku hanya tidur 3 jam hari ini. Saat Elaina sampai dirumah dia langsung menuju ke kamarnya tanpa melakukan basa basi ke orang tuanya dia beberapa kali menatap tangannya dan berguling guling di kasurnya. “Apakah aku benar benar melakukannya?” “Aaaaaaaaaaaa”

Bab 3 Berbohong untuk kebaikan

Siapakah dia murid tahun pertama yang berdiri di depan guru sembari masih membawa tasnya dan mendengarkan ocehan guru ya itu benar sayangnya itu aku. Aku terbangun dari kamarku saat membuka mata aku kaget sudah jam 6:45 Sedangkan sekolahku masuk pukul 07:00 aku bergegas mandi berganti pakaian dan lain-lain saat aku keluar rumah aku berlari kesekolah tanpa sarapan atau membawa bekal sama sekali saat aku sampai aku dicegat oleh guru pengawas disana untuk berhenti. “Nak apakah kau berniat sekolah atau tidak masa jam 7 lebih kamu baru sampai!” “Niat pak saya kesiangan tadi hehe” “Oh kesiangan bagus alasan terus lanjut murid baru banyak alasan” “Jujur pak yasudah misal pak guru gak percaya saya” “Sekarang berdiri di lapangan 1 jam!” “Tolong la pak masa gara gara telat harus dihukum” “Cepat lakukan bapak pantau kamu” Aku segera berlari ke tengah lapangan dan berdiri menjalani hukuman ku karena telat masuk ke kelas. Setelah satu jam. “Sekarang ke kelas cepat Awas kamu telat lagi” Aku mengangguk dan tidak berkata apapun kakiku terasa sangat sakit ketika menahan beridiri satu jam itu benar-benar lama aku berjalan menuju kelasku dan sudah ada guru lain disana teman- temanku yang lain menatapku karena baru  berangkat telat. “Permisi bu guru bisakah aku duduk di bangku” “Kamu kenapa nak baru masuk kelas?” “Biasa bu telat dihukum tadi sama guru yang ngawasin di depan gerbang” “Lain kali jangan di ulangi lagi ya silahkan duduk ” Aku merasa nikmat ketika duduk di bangku ku setelah 1 jam tersiksa berdiri di lapangan sembari di tatap oleh guru pengawas itu. Jam pelajaran selesai bel istirahat berbunyi. “Akhirnya saat yang kutunggu tunggu” Aku memasukan tanganku ke dalam saku celana. “Eh ehhh ehhh ehhhhh” Aku lupa tidak membawa uang saku sepertinya hari ini akan menjadi berat bagiku pagi ini tidak sarapan tidak membawa bekal dan tidak membawa uang saku. “Huft ya sudahlah bersyukur saja absenku masih sempurna” Aku memposisikan diriku menghadap ke bawah dan menutupi dengan kedua tanganku mencoba tidur walau hanya sebentar itu membuatku lebih baik mungkin. Elaina melihatku dari bangkunya yang tadi sedang dihukum oleh guru pengawas. “Mmm kok Nafchi gak kaya biasanya makan di mejanya malah tidur mungkin gak bawa bekal hmmm” Elaina keluar ruangan kelas dan membeli air putih dari mesin otomatis dia menuju ke mejaku menggoyangkannya beberapa kali aku terbangun dan memgusap ngusap mataku. “Dengerin ya Nafchi tidur itu jangan kemalaman tahu jadi telat kan dasar payah Hemph” “Iya iya ini salahku kok” “Emmm ini untukmu” Elaina memberikan botol air padaku. “Wah seriusan nih? Kebetulan hari ini aku cuma bawa buku bahkan uang sakuku tertinggal di rumah” “Kalo jadi cowo tuh yang teliti tau cara menjaga diri dasar gak becus” Muka Elaina memerah. “Terimakasih Elaina” Elaina langsung menuju ke bangkunya kembali tanpa membalas terimaksih ku itu tidak masalah kurasa aku meminum botol air. “Huft segarnyaa” Elaina keluar lagi ke kelas membeli sesuatu untuknya aku mengikutinya dari belakang  ke kantin dia tidak sengaja menabrak kakak kelas laki-laki yang sedang membawa minuman di tangannya Elaina tidak sadar dan melanjutkan berjalan kembali ke kelas setelah membeli sesuatu kakak kelas tersebut tidak terima dan marah kepada Elaina karena menabraknya lalu mengabaikannya setelah membuat baju kakak kelas itu terkena coklat  berjalan mendekat aku dengan segera berlari dan menghalangi kakak kelas itu. “Tunggu kak dia perempuan oke tolong maafkan dia” “Apa kau tidak punya mata lihat bajuku terkena coklat dan basah!” “Tapi dia itu perempuan tolong maafkan” Aku mengulur waktu agar Elaina cepat-cepat pergi ke kelasnya lagi. “Heh diamana bocah itu? Kau pasti sengaja mengulur waktu” Dia menoleh beberapa kali ke semua arah. “Awas kau bocah! teman-teman ayo pergi mencari bocah itu” Aku memegang erat tangan kakak kelas. “Tolong jangan lakukan itu dia hanya tidak sengaja lakukan lah saja padaku sebagai gantinya tapi jangan sakiti perempuan tadi akan ku kubiarkan setelah pulang sekolah di parkiran” “Itu cukup bagus hahaha jaga kata-kata mu itu” Gerombolan kakak kelas itu pun kembali duduk duduk di bangku kantin dan aku kembali ke kelasku “Aduh bagaimana ini arrghhh” Bel pulang sekolah berdering. Tanganku gemetar saat mendengar bunyi bel sekolah aku segera menuju parkiran lebih awal kakak kelas itu pun sampai di parkiran sepeda dan hanya ada aku dan gerombolan kakak kelas itu “Wah nyalimu besar juga ya ku hargai itu apa  kau siap bocah baru” Aku hanya terdiam dan mengangguk. Kakak kelas yang berbaju terkena coklat itu memukul perutku aku terpental darah keluar dari hidungku. “Itu cukup untuk anak baru sepertimu haha” Aku pulang dengan keadaan Memar di salah satu perutku sembari memegangi berjalan menjuju rumahku. Siapa kah dia anak laki laki yang murung di kelas dan menatap terus ke bawah yah itu benar aku setelah mendapat pukulan dari kakak kelas itu perutku sering sakit mendadak saat melakukan kegiatan. “Tidakku bayangkan sesakit ini pukulan kakak kelas itu” Rumor dan gosip bertebaran di kelasku bahwa aku dipukuli kakak kelas sehabis pulang sekolah di parkiran sepeda membuat Elaina menghampiriku. “Nafchi apa itu benar?” “Enggak enggak itu pasti bohong” “Jujur padaku!” “Em ini hanya kena meja kok kemarin hehe” Perutku mendadak mulas aku segera menundukkan kepalaku. “Bohong ! Aku gak percaya” Menghela nafas. “Sebenarnya itu benar” “Kau ini sungguh bodoh beraninya bikin masalah ke kakak kelas” Aku terenyum. “Benar aku memang bodoh hidupku lucu bukan?” Aku menyembunyikan kebenarannya karena takut membuat Elaina khawatir dan menambah masalah ini. “Dasar aneh! Kau harusnya lebih berhati-hati saat melakukan sesuatu” Hatiku tertusuk itu sakit tapi aku tahu ini demi Elaina akan kulakukan apapun untuk melindunginya. Aku hanya terdiam. Elaina meniggalkanku dan berjalan menuju kerumuman teman perempuannya menanyakan siapa orang yang telah memukulku. “Oh aku kenal dia itu kelas tahun ke tiga sering ke kantin disaat pagi-pagi begini” “Tolong pertemukan aku dengannya” “Wah apa kau mau meminta nomornya haha” “Tidak ini privasi” Salah satu teman Elaina pun mempertemukan dengan kakak kelas itu Elaina menemui kakak kelas itu sendiri teman kelasnya menunggu dibelakangnya. Dia adalah Lana teman sekelas Elaina penampilannya yang berambut pendek berbeda dari kebanyakan perempuan lain rambutnya berwarna hitam. “Oh kau bocah yang menabraku kemarin” “Hah!Menabrakmu kemarin” “Tapi tidak apa-apa karena aku sudah puas melampiasakan kemarahanmu ke laki-laki di kelasmu aku memukul tepat di perutnya” “Hah laki-laki!” Elaina langsung teringat padaku yang berbohong tentang kejadian terkena meja di kelas dia segera berlari ke mejaku. “Nafchi! Kenapa kau berbohong padaku? Kenapa kenapa kenapa kau rela dipukul oleh kakak kelas itu demi aku ini?” Air mata Elaina menetes di mejaku.   “Jangan menangis Elaina aku sengaja berbohong karena takut membuatmu khawatir dan karena kamu adalah teman pertamaku disini sebelum yang lain” “Maaf maafkan aku telah mengejekmu dengan sebutan bodoh dan aneh” “Tidak-tidak aku sudah terbiasa mendengar hal itu” Elaina memelukku. “Terimaksih banyak Nafchi” Setelah melepas pelukannya muka Elaina memerah dan tersenyum padaku. Aww dia sungguh imut sekali ingin kunikahi haha tapi aku sadar diri aku hanya manusia biasa punya kekurangan kuharap dia jodohku suatu saat nanti “Sama-sama Elaina” “Tolong jangan khawatir padaku dan berhenti menangis Elaina aku mohon” “Baik-baik” Melepaskan kacamata dan Elaina mengusap air matanya. “Jaga dirimu baik baik Elaina dan lebih memperhatikan sekelilingmu” “Akan kuingat itu sampai jumpa lagi” “Dadah” Elaina dalam dirinya sendiri berkata. “Kenapa dia begitu peduli padaku belum pernah ada laki-laki yang berani melakukan hal itu sebelumnya itu dan dia mungkin orang yang baik” Aku pun kembali melanjutkan tidurku sampai waktu pulang setelah tidur dari siang hingga sore bel sekolah pun berbunyi.

Lanjut baca